MATAHARI STAGNAN

Oleh : Hasto Budi Santoso


Senin, Rabu, Selasa, Sabtu, atau Kamis dan Minggu
dalam sajakku mereka satu
karena mentari stagnan tak pernah
beri mereka stigma apapun jua
hadir di sela samar memeluk sekujur
dengan tulus cinta dan kehangatan
tak peduli berapa dalam cintanya cemburu
tak ada dalam hidupnya
tak peduli betapa banyak yang dicinta,
hangat diberi rata
sungguh adil adanya
dan ketika suka, duka, salah, dan khianat
berevaporasi ke angkasa
tanpa keluh ia rangkul dengan lengan awan
yang merengkuh
segala hasrat dan gejolak dijaga
dalam tatanan rasa tanpa suara
berputar, berpendar, beriring sejalan menyublimasi diri
bulir bulir cintanya luruh satu satu mengusap hati yang panas menggelora
sejuk dan teduh menenangkan hati yang rindunya
menitah
lantas anugerah apa lagi yang masih harus
engkau masygulkan
tak bisakah engkau memandang dengan terang
tanpa jelaga kepicikan
hujan yang ia turunkan merata
bagai semua tak ada beda
badai yang ia tiupkan menghajar apa saja
tak pandang di hadapan
jika tsunami harus mengubur,
terkubur jua semua yang ada di laluan

jadi:
mengapa jelata anggap tak sama diri dari saudara
bahkan sedarah?