“SPANDATA” GELAR LOKAKARYA DIGITAL

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Riza Lesmana, S.Kom
Rusmiatun Br Saragih, S.Pd., M.Pd.

Dalam rangka meningkatkan literasi teknologi digital dan kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang relevan dengan paradigma Abad 21, SMP Negeri 2 Tarakan menyelenggarakan Lokakarya Pengembangan bahan ajar dan RPP berbasis Google for Education. Lokakaryaa yang dilaksanakan selama 3 hari dari tanggal 26 – 28 Juli 2021menghadirkan 2 pemateri yaitu Riza Lesmana, S.Kom (seorang praktisi digital literacy) dan Rusmiatun Br Saragih, S.Pd., M.Pd. (pengawas sekolah). Dalam lokakarya yang menerapkan protokol kesehatan secara ketat itu dibuka langsung oleh Kasi Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Endah Sarastiningsih, S.Pd., M.Pd.

“Tingkat literasi digital guru adalah syarat untuk dapat mengimbangi perkembangan teknologi dan menerapkan dalam kehidupan sehari hari, khususnya dalam melaksanakan tugas utama guru yaitu mengajar. Apalagi di masa pandemic dimana pembelajaran dilaksanakan secara daring, keetrampilan dalam menggunakan teknologi dan aplikasi mutlak diperlukan.” kata Endah dalam sambutannya.
Joko Edy Sutikno, S.Pd. selaku Kepala SMP Negeri 2 Tarakan mengharapkan agar para guru benar – benar memanfaatkan kesempatan lokakarya seperti ini untuk belajar, menyerap materi yang dipaparkan kemudian digunakan dalam melaksanakan tugas sehari-hari. Bukan menjadi pengetahuan yang berhenti di laptop atau android masing – masing. Sementara ketika mengajar kembali menggunakan cara – cara yang kurang kompatibel, tidak interaktif dan tidak relevan dengan cara kerja pembelajaran daring.
Menjawab tantangan itu, fitur – fitur yang ada dalam Google for Education dikenalkan dan dikuatkan. Peserta lokakarya mempelajari dan mempraktekkan penggunaan Google Classroom, Google Meet, Google Doc, Google Slide, Google Calendar, dan Google Jamboard. Mereka juga menautkan dokumen-dokumen yang telah dibuat dan disimpan dalam Drive atau Cloud dengan Materi yang dikembangkan dalam Google Classroom. Selain itu peserta lokakarya juga melakukan registrasi dan pengelolaan data menggunakan akun Google for Educaton dengan ekstensi @guru.smp.belajar.id.
Berkaitan dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Peserta lokakarya dikuatkan dalam merumuskan tujuan pembelajaran yang harus memuat unsur audience, behavior, condition, dan degree (ABCD). Peserta juga dikuatkan kembali dalam menerapkan model – model pembelajaran yang relevan dengan Pembelajaran Abad 21 seperti Discovery Learning, CTL, Inquiry Based Learning, Project Based dan Problem Based Learning, dll. Didalamnya memuat aspek kolaborasi, komunikasi, dan berfikir tingkat tinggi. Dalam diskusi RPP peserta diberi peluang untuk membahas RPP orang lain dan menyusun RPP sendiri untuk dipresentasikan.
Dalam refleksi kegiatan, Aris Munandar mengaku penggunaan Google for Educatuion memberi banyak keuntungan tapi repot dalam penerapan. Ia menyampaikan bahwa guru harus mengulangi dari awal menyusun Classroom menggunakan akun belajar.id dan peserta didik juga harus mengganti akun umum dengan akun mereka dalam platform belajar.id. Hal ini yang akan menemui kendala dan resistensi.
Hasto Budi Santoso, ketua panitia menambahkan, Google for Education memang salah satu dari berbagai platform atau aplikasi pembelajaran yang layak dipelajari dan digunakan karena menyediakan kapasitas penyimpanan yang tak terbatas, gratis, dan mudah menggunakannya. Meski demikian ia juga menyetujui adanya kendala – kendala yang disampaikan oleh Aris Munandar. Ia juga menyampaikan bahwa tagihan yang harus dikumpulkan adalah 1 sampel RP daring ke dalam kantong tugas digital dan digunakannya akun belajar.id dengan menautkannya ke akun pemateri.
Menutup acara lokakarya, Joko Edy Sutikno, S.Pd. mengingatkan kembali agar guru – guru menggunakan ilmu yang sudah dipelajari dan dikuatkan dalam pelaksanaan tugas. Ala bisa karena biasa. Kalau tidak pernah mencoba tak akan pernah bisa. Ia juga menegaskan bahwa tak ada kata terlambat untuk belajar dan tak ada kata terlalu tua dalam belajar. Manusia berhenti belajar ketika ia sudah tertanam bagai akar. (HBS 2021)

More to explorer

TEMPAT AWAL PENGABDIAN

Oleh : Nirwana Sebuah desa jauh dari sudut kotaDi kelilingi gunung dan bukit yang indahSiang malam suasana dingin melandahJaket dan kaos kaki

TAK APA-APA JIKA TAK JADI APA-APA

Oleh : Rahmi TAK APA-APA JIKA TAK JADI APA-APAOleh : Rahmi Tidak apa-apa jika tidak jadi apa-apaTidak apa-apa jika tidak punya prestasi